Gerakan ASAK St. Monika

“Dengan menjadi penyantun tidak membuatnya menjadi miskin, tetapi hatinya penuh dengan sukacita.”
Yanto J. Wibisono, Penggagas ASAK, Komisi Pelayanan Sosial Ekonomi Keuskupan Agung Jakarta

Gerakan  Ayo Sekolah Ayo Kuliah (ASAK) merupakan gerakan orang tua asuh, yaitu ada penyantun tetap yang membantu anak santun, yang bersifat dari umat untuk umat.

Tujuan utamanya membantu anak-anak di Paroki Serpong Santa Monika yang kondisinya kurang beruntung dapat melangkan ke masa depan yang lebih baik melalui kesempatan memperoleh pendidikan.

Segeralah bergabung dengan kami. Detil informasi program ASAK Paroki Serpong Santa Monika bisa dilihat pada tautan ini, sedangkan data statistik anak ASAK bisa dilihat di sini.

Seminar Anak Muda “Creativepreneur”

Beruntung sekali Vrilly dan Monica dapat hadir dalam Seminar Anak Muda bertajuk Creativepreneur untuk mendengarkan sharing dan motivasi dari Yasa Singgih, penulis buku “Never Too Young To Be A Billionaire”.  Ini berkat kerja sama yang baik antar Sie Pendidikan Dekenat Tangerang, sehingga ASAK St. Monika mendapat info dan undangan terbatas untuk acara ini dari Ibu Yacinta, Ketua Sie Pendidikan Paroki Ciledug, melalui Sie Pendidikan Paroki Serpong, Gereja St. Monika. Acara ini digelar Sabtu siang tanggal 27 Mei 2017 yang lalu, di Gramedia World BSD City.

Dengan didampingi host Adi Putera Widjaja, founder Garudapreneur,  Yasa memulai kisahnya saat kelas 3 SMP, sepulang sekolah ia pergi ke Tanah Abang, walau  belum tau tempat yang dituju.  Setelah bertanya-tanya, akhirnya ia berhasil membeli 6 kaos dengan total nilai Rp 180.000 untuk dijual kepada teman-teman sekolahnya. Dari jualannya ini, modalnya kemudian terus berkembang, oleh karena itu ia semakin sering menyambangi Pasar Tanah Abang: dari seminggu sekali menjadi 2-3 kali. Sampai akhirnya, setelah kenal dengan beberapa pedagang di sana, ada seorang Oom supplier yang bersedia memberikan fasilitas kredit kepadanya: daripada sering bolak-balik dengan pembelian yang tidak terlalu banyak, ia diperbolehkan mengambil kaos lebih banyak dengan waktu pembayaran yang fleksibel. Alhasil, ia memborong 3 karung kaos untuk dijual…

Semasa SMA, ada beberapa temannya yang membuka bisnis kuliner. Yasa mulai ‘sibuk memperhatikan rumput tetangga yang lebih hijau’ dan akhirnya tergiur untuk masuk ke bisnis kuliner. Saat itulah hidupnya mulai kacau, karena pagi-siang sekolah, sore-malam bisnis kuliner, pulangnya urus bisnis kaos on line, pagi-pagi sebelum ke sekolah ia musti belanja untuk keperluan kedai kopinya. Karena tidak bisa fokus pada 2 bisnis yang dijalaninya, akhirnya kedua usaha itu bangkrut dengan kerugian mencapai ratusan juta rupiah. Kala itu usianya 18 tahun…

Beruntung Papa Yasa punya relasi bisnis yang punya usaha bikin sepatu, sehingga tahun berikutnya Yasa bisa membangun bisnis on line baru di bidang fashion dengan brand Men’s Republic. Dengan modal awal 4 lusin sepatu untuk dijual, kini Men’s Republic telah  menjadi merek fashion Indonesia yang digandrungi oleh pria muda. Pelanggan Men’s Republic kini tersebar di berbagai penjuru Indonesia, bahkan juga di 8 negara Asia.

Yasa mendirikan perusahaan untuk memayungi bisnis barunya ini, sambil tetap berkuliah di Binus University, jurusan Marketing Communication. Visi PT Paramita Singgih adalah menjadi perusahaan pemilik merk fesyen & consumer goods berbasis online terbanyak, terbesar & terbaik di Indonesia. Visi besar seorang Yasa sebagai entrepreneur muda adalah menjadikan Indonesia yang kuat dengan semangat entrepreneurship di Indonesia serta menjadikan bisnisnya kebanggaan bangsa Indonesia yang dapat maju hingga dunia internasional.

Beberapa tips yang diberikan Yasa untuk mengembangkan bisnis online, di antaranya:

  • Menjual barang yang dibutuhkan pasar
  • Pertimbangkan biaya distribusi/saluran pemasaran yang cost effective: toko off line atau on line? Toko sendiri atau melalui Dept Store?
  • Kelola keuangan bisnis dengan baik agar modal bisa terus berkembang
  • Jangan berkompetisi dengan membanting harga, karena lama kelamaan margin kita akan tergerus sehingga habis modal
  • Berkompetisi dengan membangun merk sendiri melalui value creation: produk terbaik, customer service yang ramah dan sangat membantu, fast delivery, free delivery Jabodetabek, kecepatan web, dsb
  • Membangun merk dengan membagikan produk kepada sosialita supaya mereka mengendorse merk kita
  • Membangun data base customer untuk mendapatkan pelanggan setia, dan tidak capek selalu mencari pelanggan baru
  • Memicu repeat order dengan memberikan voucher discount untuk berbelanja di hari ulang tahun pelanggan, juga di hari besar keagamaan pelanggan
  • Jangan ekspansi ke bisnis lain sebelum bisnis awal berjalan lancar dengan dukungan tim kerja serta sistem yang baik

Di tengah kesibukan kuliah dan mengelola bisnisnya (dengan dukungan tim Men’s Republic) Yasa berhasil meraih berbagai penghargaan di bidang kewirausahaan:

  • Juara 1 Wirausaha Muda Mandiri Nasional Kategori Mahasiswa Bidang Kreatif tahun 2015
  • Youth Marketeers Of The Year Award 2016 by Mark Plus
  • Forbes 30 Under 30 Top Promising Young Leaders, Daring Entrepreneurs and Game Changers in Asia by Forbes 2016
  • The Youngest Forbes 30 Under 30 Asia in Retail & E-commerce Category 2016

Yasa dan Adi juga meng-highlight bahwa prospek industri online di Indonesia saat ini masih sangat besar karena online retail masih kurang dari 1% dari nilai perdagangan di Indonesia. Target market untuk industri online (usia produktif) juga akan mengalami ledakan pada tahun 2033.

Jadi… Yuk, generasi Milenial jangan cuma surfing di dunia maya tanpa kegiatan produktif, tapi kembangkan potensi dan kreatifitasmu dengan menciptakan bisnis baru dan unik, yang dapat membuka lapangan kerja bagi orang lain.

It’s never too young to be a billionaire!!! 

@noviyanti.rahardjo
@felicia

 

Link:

yasasinggih.com/tentang-kami
garudapreneur.com/kompetisi-ide-bisnis

 

Sesi Jambore: Say No to Drugs

Artikel ini merupakan rangkaian liputan ASAK St. Monika di Jambore 1D ASAK KAJ. Ditulis oleh Angelia Putri, Anak ASAK St. Monika, peserta Jambore.

Pada tanggal 29 April sampai 1 Mei 2017, gerakan ASAK KAJ mengadakan acara Jambore 1D ASAK KAJ di BUPERTA, Cibubur dalam rangka 10 tahun berdirinya ASAK. Semua acara di Jambore ASAK ini benar-benar disiapkan dengan matang sehingga menarik dan bermanfaat. Salah satu mata acaranya adalah “Say No to Drugs” yang mengingatkan anak-anak muda ASAK untuk menghindari bahaya narkoba.

Say No to Drugs dalam Jambore ASAK dipandu oleh Brigjen.Pol. Dr. Victor Pudjiadi, SPB, FICS, DFM. Dalam paparannya, Pak Victor menginformasikan peningkatan pemakai narkoba yang telah mencapai 5,9 juta orang pada November 2015 dan 22% di antaranya adalah pelajar dan mahasiswa. Hal ini jelas merupakan masalah yang membutuhkan perhatian serius dan para panitia ASAK telah memberikan salah satu pencegahan dengan mengadakan sesi Say No To Drugs.

Sesi Say No to Drugs ini dikemas dengan penyampaian yang berbeda serta lebih interaktif, tidak seperti seminar lainnya, sehingga memudahkan anak-anak muda menangkap maksud di dalamnya. Bapak Victor menjelaskan tentang bahaya narkoba dengan menggunakan berbagai macam alat bantu yang menarik, seperti video-video, gambar meme bahkan sulap yang juga melibatkan para peserta: anak-anak ASAK.

Acara Say No To Drugs, yang tadinya saya kira akan membosankan dan membuat ngantuk, karena diadakan pada malam hari yang gerimis, dengan durasi kurang lebih 3 jam, malah membuat saya melek serta dipenuhi tawa dan antusiasme dari anak-anak ASAK. Sesi Say No To Drugs ditutup dengan pemberian kenang-kenangan kepada Bapak Victor.


@angelia.putri – berdiri no. 3 dari kiri

Sesi Jambore: Teamwork

Artikel ini merupakan rangkaian liputan ASAK St. Monika di Jambore 1D ASAK KAJ. Ditulis oleh Vrilly Claudia Defita Berdaria, Anak ASAK St. Monika, peserta Jambore.

Sesi TEAMWORK saat itu menuntut kerja sama, pengorbanan teman, dan keikhlasan hati menerima kenyataan. Kami dituntut untuk bisa bekerja sama dengan teman-teman kami, yang sebagian besar kami tidak terlalu kenal, bahkan mungkin tidak mengenal satu sama lain.

Kami harus cepat mendapat kawan supaya dapat mengikuti permainan sampai akhir. Bagaikan mencari mitra kerja yang tepat untuk mencapai tujuan bersam, walaupun akhirnya mungkin kerja sama itu tidak berlaku lagi dan berakhir dengan adanya yang dikorbankan atau mungkin diri kita sendiri yang dikorbankan.

Permainan ini seru dan cukup memacu adrenalin, sangat berkesan …

Terima kasih Pak Frans.

@vrilly.claudia.defita.berdaria – berdiri no. 2 dari kanan

Sesi Jambore: Pelestarian Lingkungan Hidup

Artikel ini merupakan rangkaian liputan ASAK St. Monika di Jambore 1D ASAK KAJ. Ditulis oleh Yovita Kidi, Anak ASAK St. Monika, peserta Jambore.

Pada tanggal 29 April 2017, sebanyak kurang lebih 970 orang anak ASAK dari berbagai paroki di Keuskupan Agung Jakarta, berkumpul di lapangan yang luas untuk mengikuti upacara pembukaan sebagai tanda dimulainya Jambore 1D ASAK KAJ. Seluruh peserta berbaris sesuai dengan blok yang ditentukan oleh panitia. Setelah upacara pembukaan seluruh rangkaian acara siap dimulai sampai dengan tanggal 1 Mei 2017.

Selama tiga hari mengikuti acara Jambore 1D ASAK, banyak sekali acara yang mengesankan, tapi acara yang paling mengesankan dan membuat saya tertarik adalah acara menjaga lingkungan. Saya sendiri tertarik karena menurut saya, jaman sekarang banyak orang yang kurang peduli dengan lingkungan.

“GROPESH itu apa sih? Nama GROPESH itu sebenarnya berasal dari kepanjangan Grombolan Peduli Sampah.”

Acara menjaga lingkungan ini dibawakan oleh organisasi orang muda katolikyang didirikan pada tahun 2007. Sebagai pendorong gerakan ini adalah Romo Andang L Binawan, SJ. Organisasi ini biasa disebut GROPESH (gerakan orang muda peduli sampah). Namun kemudian, dalam Rapat Kerja Kategorial se-Keuskupan Agung Jakarta (KAJ) bersama Uskup, nama tersebut dirubah menjadi Gerakan Orang Muda Peduli Sampah. Tentu saja singkatannya tetap GROPESH (keren kan Uskupnya).

GROPESH juga memberikan beberapa macam bentuk pelatihan, seperti: cara membuat pupuk kompos skala rumah tangga, kompos metode Takakura, penggunaan dan cara membuat bor Biopori, kerajinan tangan dari bahan-bahan sampah an-organik dan cara pemilahan sampah kepada semua peserta jambore. GROPESH memiliki banyak cita-cita yang masih harus diraih dan diwujudkan. Sesuai dengan visinya yaitu, menjadi kelompok orang muda yang unggul dalam mewujudkan habitus bersih dan kepedulian terhadap lingkungan sebagai bagian dari iman, khususnya dalam lingkup Jakarta, Tangerang dan Bekasi.

Kenapa GROPESH sangat peduli dengan sampah? Karena sampah adalah sebuah isu besar yang seperti fenomena gunung es. Isu yang terlihat sepele/kecil, namun menyimpan begitu banyak permasalahan di baliknya… yang tentunya tidak terlihat.

Contohnya begini, Setiap orang pasti akan menghasilkan sampah. Baik itu sampah sisa makanan sehari-hari ataupun sampah sisa kemasan bekas jajan di supermarket. Ya tidak? Kalau pun tidak suka jajan, tapi suka rokok, ya pasti menghasilkan puntung rokok. Nah, kelihatannya sedikit yah, sampah yang seseorang hasilkan setiap hari? Ya… paling-paling seember tempat sampah kecil deh kira-kira. Tapi coba dipikirkan, satu orang menghasilkan sampah sebanyak1 tong sampah kecil, bagaimana dengan 200 juta jiwa penduduk Indonesia? Berarti ada 200 juta tong sampah. Belum sampah industri, sampah perkantoran, maupun sampah lain-lainnya. Itu baru dalam 1 hari. Bagaimana dalam 1 bulan? Atau pun 1 tahun? Terbayang kan?

Masalah sampah tidak semata-mata sampai di situ lho. Masih ada banyak lagi. Misalkan, masalah pencemaran udara dan tanah di TPS (Tempat Pembuangan Sementara) ataupun TPA (Tempat Pembuangan Akhir). Kamu pikir sampah yang ditumpuk di TPS/TPA tidak bisa mencemari tanah/udara/air di sekitarnya? Salah besar! Sampah yang sudah tertumpuk jadi satu, bisa menghasilkan cairan kimia dan juga gas yang cukup berbahaya jika terhirup.

Kesadaran terhadap penanganan sampah dan kerusakan lingkungan hidup mungkin belum begitu populer untuk saat ini. Akan tetapi, saya meyakini bahwa dalam waktu yang tidak lama, kebutuhan untuk mengolah sampah dan menjaga kelestarian lingkungan hidup akan menjadi tuntutan yang tidak dapat dihindari. Ketika global warming semakin parah, ketika jumlah hutan dan tanaman semakin menyusut, ketika bumi dan alam tidak semakin ramah, orang mungkin baru akan menyadari bahwa mereka berada dalam bahaya. Keadaan yang baru saya sebutkan tidak seharusnya terjadi jika mulai saat ini setiap orang berusaha untuk memperhatikan sampah dan kerusakan lingkungan hidup.

Usaha sekecil apa pun yang kita lakukan saat ini, pasti akan sangat dihargai oleh anak cucu kita yang akan hidup di waktu yang akan datang.


@yovita.kidi – berdiri no. 2 dari kiri

Jambore 1D ASAK KAJ: Here We Come…!

Artikel ini merupakan rangkaian liputan ASAK St. Monika di Jambore 1D ASAK KAJ

Pada tanggal 23 April 2017 yang lalu diadakan briefing singkat dalam rangka persiapan mengikuti Jambore 1D ASAK KAJ yang akan diselenggarakan di Buperta Cibubur 29 Mei – 1 Juni 2017. Pertemuan diadakan di Aula St. Benediktus dan dihadiri 15 peserta dan orang tua.

Acara dibuka ketua ASAK St. Monika, Suwito dan briefing mengenai skedul acara, tata tertib peserta serta daftar perlengkapan yang harus dibawa dipresentasikan oleh Asti. Peserta juga mendapat nomor identitas perserta yang akan digunakan untuk registrasi di Buperta Cibubur Sabtu depan.

Berhubung tidak semua peserta bisa hadir, keesokan paginya akan diadakan briefing susulan dan mempersiapkan sebagian perlengkapan kemah (alas duduk dan alas tidur bagi yang memerlukan).

Selamat bersiap dan bergembira di Jambore yaa…

@noviyanti.rahardjo

Test Minat & Bakat 2017

Tes minat dan bakat untuk anak-anak ASAK kembali diselenggarakan oleh Tim Pembinaan dan Pengembangan ASAK St. Monika, di bawah koordinator Ibu Hanlie Muliani, M. Psi., Psi pada tanggal 4 Maret 2017 yang lalu.

Peserta kali ini adalah siswa kelas 8 sampai kelas 10 sebanyak 8 anak: Theresia Elfrida Simamarta, Flavianus Delvin, Ignatius Jason, Maria Samantha, Yohanes Vino Djauhari, Diastansia Prilly Lastrifa, Feriawan Guntama dan Florensia Oktaviani Rumawas. Konsultasi hasil tes dilaksanakan pada tanggal 1 April 2017.

Berikut kesan dari anak ASAK maupun orang tuanya atas kegiatan ini.

Yaa… kalo saya sih merasa tes nya ada manfaat nya.. Saya jadi ada gambaran buat nanti SMA atau kuliah. – Samantha

Yah bagus Bu, bisa jadi motivasi aku dalam belajar…Aku bisa tau potensi aku dalam bidang apa, dll – Jason

Menurut saya bagus sekali… Jadi anak-anak tau apa yang menjadi kelebihan dari diri mereka sendiri… Sehingga lebih terarah dan fokus pada bakat dan minat anak-anak, bukan karena keinginan pihak orang tua saja – Ibu Pinpin

Jadi lebih tau harus fokus ke mana setelah melihat hasil tesnya, Tan – Vino

Pendapat saya itu perlu biar anak-anak bisa tahu dari awal sebenarnya mau memilih jurusan apa, biar bisa tercapai cita-cita sesuai yang ada di dalam hati, pikiran dan bakatnya. Saran saya dilakukan sebelum sekolah-sekolah buka pendaftaran murid baru – Ibu Susan

@noviyanti.rahardjo

TANAH YANG MEGAH

Karya Angela Mawar

Aku menemukan sebuah tanah yang megah
Sebuah negeri yang sering diagungkan para raja
Tuhan menciptakannya sebagai tempat untuk Dewi singgah
Sebuah rumah dengan keramahannya

Dia yang lahir dari sejarah panjang
Bersinar bak secercah cahaya dalam kegelapan
Ini tentang sebuah bangsa
Tentang bangsa yang sempurna
Tapi gugur terjatuh mencium tanah

Bagaimana mungkin ini bisa terjadi?
Bangsaku telah kehilangan jati dirinya
Kini bangsaku kembali terjajah
Dari segi sosial, ekonomi, politik dan agama

Heeiii , kalian yang disana!
Saudaraku setanah tercinta
Mari bersatu
Mengembalikan bangsa kita.


Puisi ini dibawakan Angela dalam Lomba ASAK Got Talent 1 Dekade ASAK yang lalu.

Kesan Peserta Peyisihan Lomba 1D ASAK

andryan
“Kesan dari lomba baca kitab suci sangat menyenangkan, bisa bersosialisasi dengan teman yang baru. Belajar menerima segala sesuatu yang gagal, dan kekalahan ini menjadi motivasi saya untuk bekerja keras, berjuang dan berdoa demi mendapatkan sesuatu.”
– Gregorius Andryan Wicaksono

beata
“Kesannya seru karena bisa belajar untuk percaya diri tampil di depan umum dan nambah pengalaman baru juga. Selain itu, komentar dari dewan juri bisa buat aku jadi belajar buat lebih baik lagi.”
– Beata Mattovana

monik
“Kesan saya itu awalnya sih kayak biasaa gituu Tante, latian perlahan demi perlahan dan koreksi koreksi poin poin pembacaan gitu… Tapi pas mau maju nervous banget hehe, sampai tanganku kedinginan. Puji Tuhan bisa membawa piala Juara 2. Saya harap bisa memberikan yang terbaik dan terus berlatih untuk babak selanjutnya!”
– Monica Julia (juara 2 lomba membaca Kitab Suci kategori remaja)

angel
“Acara ASAK got talent seru banget, bisa melihat bakat-bakat peserta lain dan menjadikannya bahan untuk semakin belajar dan berkembang. Panitia panitianya baik banget.”
– Angela Mawar

bonifasius
“Terima kasih kepada panitia, kepada Tante Ani, sudah membimbing saya dalam mempersiapkan diri untuk mengikuti baca Kitab Suci dalam rangka ultah ASAK, sehingga dapat mengikutinya dengan baik. Saya senang dapat pengalaman baru, semoga ini bermanfaat untuk memulai melakukan pelayanan.”
– Bonifasius Feblin Dometri

clara
“Kesan-kesan Clara mengikuti lomba baca Kitab Suci sangat menyenangkan walaupun belum bisa menjadi juara. Itu pengalaman yang baru buat Clara dan Clara juga berterima kasih buat Tante Ani dan Tante Ana yang sudah mengajar dan membimbing Clara di dalam membaca Kitab Suci yang benar. Saran Clara, semoga kami peserta ASAK, kalau boleh dibimbing terus sebagai lektor dan pemazmur, terimakasih.”
– Clara Alverina

vino
“Kesannya seru bisa melihat banyak talenta di sana yang bagus-bagus, trus bisa belajar lebih banyak lagi untuk kesalahan yang dilakukan sebelumnya.”
– Yohanes Vino Djauhari

geofany
“Saya sangat senang dan bersyukur dapat mengikuti lomba baca Kitab Suci. Melalui pengalaman ini, saya banyak belajar hal baru seperti cara membaca yang baik dan disiplin waktu, serta mengenal teman baru. Terima kasih untuk pembina dan panitia yang telah membimbing saya selama masa persiapan hingga lomba. Tuhan memberkati.”
– Geofany Guntama (juara 3 lomba membaca Kitab Suci kategori remaja)

@noviyanti.rahardjo

 

 

Half Way to 1D ASAK Finale

Sehubungan dengan diadakannya berbagai lomba dalam rangka satu dekade (1D) ASAK KAJ, beberapa anak ASAK mengikuti lomba yang diselenggarakan Panitia: baca Kitab Suci (kategori anak-anak & remaja), ASAK Got Talent dan ASAK Got Talent Anak ASAK Berprestasi.

Panitia lomba 1D ASAK Keuskupan Agung Jakarta wilayah Tangerang, menggelar penyisihan tingkat dekenat di Gedung Karya Pastoral, Paroki Curug, Gereja St. Helena – Karawaci pada tanggal 4 Februari 2017. Penyisihan diselenggarakan untuk lomba baca Kitab Suci, mendaraskan Mazmur dan ASAK’s Got Talent.

Lomba Baca Kitab Suci

Sejak pertengahan Desember, anak-anak ASAK yang mendaftar untuk lomba membaca Kitab Suci, mulai berlatih bersama, dibimbing para lektris Paroki St. Monika. Hari pertama latihan hanya Andryan dan Clara (peserta kategori anak-anak) yang hadir. Setelah liburan Natal dan tahun baru, latihan baru benar-benar efektif berlangsung.

Dari awalnya masih tersendat-sendat atau justru terlalu cepat membaca, selama tujuh kali latihan sampai awal Februari, akhirnya Andryan, Clara, Boni, Monic dan Fany siap berlomba di tingkat Dekenat Tangerang, pada tanggal 4 Februari 2017 di Gedung Karya Pastoral Paroki Curug, Gereja St. Helena – Karawaci. Puji Tuhan, Monic meraih juara II dan Fany menyabet juara III untuk kategori remaja. Mengutip panitia, seluruh peserta yang telah berpartisipasi dalam lomba 1D ASAK ini juga telah menjadi pemenang!

Terima kasih tim lektris Paroki St. Monika, khususnya Tante Ana, Tante Ani dan Tante Clara (Paroki Administratif  St. Ambrosius) yang telah dengan tekun dan sabar, mendampingi dan membimbing anak-anak berlatih membaca Kitab Suci dengan baik. Ini baru setengah perjalanan menuju final di tingkat Keuskupan Agung Jakarta tanggal 25 Maret 2017 nanti.

Terima kasih juga kepada Bu Maya yang sudah membantu berkoordinasi dengan para Pembina lomba baca Kitab Suci dan para peserta, sehingga latihan dapat berjalan dengan baik.

Monic dan Fany, tetap semangat untuk terus berlatih membaca Kitab Suci dengan bacaan baru ya, agar talenta kalian terus berkembang dan dapat menggapai prestasi terbaik di tingkat KAJ. Tuhan memberkati.

ASAK’s Got Talent

Lomba ASAK Got Talent diikuti 3 peserta: Angela (baca puisi), Beata dan Vino (menyanyi solo). Angela yang membacakan puisi karya sendiri berjudul “Tanah yang Megah” mengaku grogi, namun dalam penampilannya Angel mendapat pujian dari Dewan Juri. Mereka berkomentar bahwa penampilannya bagus, walau tidak ada pengalaman baca puisi sebelumnya.

Beata, yang juga merasa grogi, namun dinilai memiliki kemampuan vocal yang baik dan suaranya juga bagus. Beata membawakan lagu kesukaannya, “Titanium”.


Sedangkan Vino yang menyanyikan lagu “Que Sera Sera” versi anak-anak, mendapat saran-saran perbaikan agar dapat semakin mengasah hobby dan talentanya bernyanyi.

Semangat ya Vino… Kamu bersama Angela dan Beata adalah pemenang, dengan bonus berbagai masukan dari Dewan Juri (Heidi Awuy, Lilis Susanti, Christian Reinaldo) untuk semakin mengembangkan talenta kalian.

 

Last, but not least, terima kasih Kak Alfa yang telah memberikan banyak masukan dalam sesi latihan yang singkat…

Untuk semua peserta yang telah berlatih guna berpartisipasi dalam lomba 1D ASAK ini,  kembangkan terus talentamu ya…

Sesuai pesan Rm. Bimo, seimbangkan juga dengan pelayanan untuk Tuhan. Proficiat untuk semua!

@noviyanti.rahardjo