Gerakan ASAK St. Monika

“Dengan menjadi penyantun tidak membuatnya menjadi miskin, tetapi hatinya penuh dengan sukacita.”
Yanto J. Wibisono, Penggagas ASAK, Komisi Pengembangan Sosial Ekonomi Keuskupan Agung Jakarta

Gerakan  Ayo Sekolah Ayo Kuliah (ASAK) merupakan gerakan orang tua asuh, yaitu ada penyantun tetap yang membantu anak santun, yang bersifat dari umat untuk umat.

Tujuan utamanya membantu anak-anak di Paroki Serpong Santa Monika yang kondisinya kurang beruntung dapat melangkah ke masa depan yang lebih baik melalui kesempatan memperoleh pendidikan.

Segeralah bergabung dengan kami. Detil informasi program ASAK Paroki Serpong Santa Monika bisa dilihat pada tautan ini, sedangkan data statistik anak ASAK bisa dilihat di sini.

Iklan

ROAD SHOW ASAK St. MONIKA

Memanfaatkan momen kunjungan Romo Paroki St. Monika bulan Oktober dan November 2017 ke Lingkungan-Lingkungan di seluruh wilayah Paroki St. Monika, Team ASAK turut serta untuk melakukan Road Show sosialisasi ASAK ke beberapa Wilayah Paroki St.Monika.

Beberapa Wilayah yang dikunjungi Team ASAK St Monika di antaranya:

  • Wilayah 3: Lingkungan St. Klara, Lingkungan St. Sabina, Lingkungan St. Louis, Lingkungan St. Laurentius dan Lingkungan St. Helena,
  • Wilayah 4: Lingkungan Gabriel,
  • Wilayah 9: Lingkungan Belarminus, Bertha dan Lingkungan Yustinus,
  • Wilayah 13: Lingkungan Filipus Rasul,
  • Wilayah 19: Lingkungan Bunda Theresa,
  • Wilayah 20: Lingkungan Salib Suci, Lingkungan Klemens, Lingkungan Thomas Rasul.

Pak Lukas Sutedja (DPH Pendamping PSE) dan Pak Albertus (Ketua Seksi PSE St. Monika) juga turut membantu dalam kunjungan sosialisasi ASAK di Wilayah 9 karena terbatasnya team ASAK di saat yang bersamaan. Team ASAK sendiri diwakili oleh David Putranegoro, Lukas Wibowo, Susie Ratinawaty, Linda Lestari dan Suwito Jo

Adapun tujuan dari Road Show kali ini adalah untuk sosialisasi program ASAK dan menggalang dana untuk dana ASAK dengan harapan akan bertambah donator dan penyantun ASAK. Hasilnya cukup menggembirakan setelah road show dari bln Oktober sampai dengan Desember 2017 terkumpul lebih kurang Rp 61.3 juta dan diperoleh 26 donatur baru dimana 8 diantaranya juga menjadi penyantun baru.

Puji Tuhan atas kemurahan hati warga-warga yang bersedia menjadi donator atau pun penyantun ASAK yang baru. Kami juga mengucapkan terimakasih kepada para Ketua Lingkungan yang kami kunjungi, Romo Bimo, Romo Sirken, Romo Harris dan Romo Yaya yang memberikan kesempatan kepada ASAK untuk turut serta dalam kunjungan Romo ke umat di LIngkungan – Lingkungan.

Untuk momen kunjungan Romo berikut fokus team Road Show ASAK adalah untuk mensosialisasikan Program ASAK untuk menjaring anak-anak ASAK baru.

@suwito.jo

Sejuta Koin untuk ASAK

Bapak/Ibu Ketua Lingkungan yg terkasih,

Menjelang Natal ini kami mau mengajak anak-anak BIA di Paroki St. Monika untuk turut serta dalam kegiatan  SEJUTA KOIN UNTUK ASAK.

Program apa itu “Sejuta Koin untuk ASAK”?

Program ini berupa Celengan yang akan dibagikan kepada anak-anak BIA + BIR St. Monika dan hasilnya nanti akan disumbangkan untuk mendanai program ASAK St. Monika. Dengan celengan ini, selain anak- anak dapat belajar menabung sejak usia dini, juga berlatih berempati dan belarasa dengan berbagi kepada teman-teman yang kesulitan membayar uang sekolah atau kuliah.

Apa itu ASAK St. Monika?

ASAK (Ayo Sekolah Ayo Kuliah) St. Monika merupakan program memberi santunan kepada umat St. Monika yang kurang beruntung agar dapat melanjutkan sekolah atau kuliah.

Mekanisme Pembagian dan Pengumpulan

Celengan Sejuta Koin untuk ASAK akan dibagikan oleh Pengurus BIA Wilayah/ Lingkungan ke masing-masing anak BIA + BIR. Setiap hari sampai Natal nanti masing-masing anak diharapkan mengisi celengan Natalnya dan membawanya ke gereja St. Monika untuk dikumpulkan pada Misa Natal Anak tgl 25 Desember 2017.

Untuk mensukseskan program ini, kami mohon dukungan  dari Korwil/Kaling untuk juga melibatkan anak-anak seusia BIA + BIR yang belum ikut/aktif dalam kegiatan BIA + BIR. Bagi anak-anak tersebut, bila berminat ikut program Celengan ini,  dapat mendaftar ke pengurus BIA di lingkungan/paroki. Saat ini sedang dibagikan 1.080 celengan kepada anak BIA+BIR yang aktif.

Terimakasih

Kerjasama Sie PSE + BIA

@AlbertusMCJayanto

Misa Syukur 1D ASAK KAJ

Rangkaian acara satu dekade Ayo Sekolah Ayo Kuliah Keuskupan Agung Jakarta (1D ASAK KAJ) dipuncaki dengan Misa Syukur pada tanggal 22 Juli 2017 di Paroki Bojong Indah, Gereja St. Thomas Rasul – paroki cikal bakal gerakan ASAK di tahun 2007, saat Yanto J. Wibisono, Sang Penggagas, berdomisili di sana.

Misa diawali dengan lagu pembukaan yang meriah “Mari Kita Bersukaria”, lagu yang mengungkapkan rasa syukur kepada Tuhan. Koor ini merupakan kolaborasi anak ASAK Maria Bunda Karmel dan ASAK St. Bernadet yang bernyanyi sambil memainkan angklung, ditingkahi orkes keroncong dari St. Clara.

Mgr. Ignatius Suharyo, Uskup Keuskupan Agung Jakarta, mempersembahkan Misa Syukur ini sebagai selebran utama, didampingi enam belas imam konselebaran dari berbagai paroki dan tarekat, di antaranya RP Justinus Sigit Prasadja, SJ (Ketua Komisi PSE KAJ).

Dalam homilinya, Mgr. Suharyo mengucapkan proficiat untuk ulang tahun ke sepuluh ASAK KAJ yang telah menggerakkan 58 dari 67 paroki di KAJ. Menurut Bapa Uskup, melalui rasa syukur yang dirayakan dalam Ekaristi Kudus, dapat diartikan bahwa gerakan ASAK merupakan bagian dari karya agung Tuhan. Perjumpaan dengan Kristus dialami oleh semua yang terlibat di dalam program ASAK. Sebagaimana diungkapkan dalam bacaan Injil mengenai Nikodemus yang lahir baru dan pengalaman pribadi Paulus sebagai ciptaan baru (bacaan pertama) setelah mengalami perjumpaan dengan Kristus, perjumpaan dalam keluarga besar ASAK telah membuat  setiap pribadi dalam keluarga besar ASAK dikuasai oleh kasih Kristus: rela mengorbankan waktu, pikiran, tenaga dan dana untuk gerakan ASAK, karena hati kita tergerak untuk berbela rasa kepada sesama yang membutuhkan. Semoga gerakan ASAK ini menjadi suatu gerakan yang menyebarkan virus bela rasa kepada saudara-saudara yang lain, agar mengalami kelahiran baru dan ciptaan baru.

Yanto dalam sambutannya seusai Misa, menyatakan tidak pernah membayangkan bahwa setelah satu dekade perjumpaan, ASAK KAJ sudah menjadi keluarga besar (per Juli 2017: 57 paroki & 2 stasi, 4.920 anak Ayo Sekolah, 710 anak Ayo Kuliah, 35 anak Seminari (total 5.674 anak, alumni Ayo Sekolah 1,620 anak, alumni Ayo Kuliah: 90 anak dan 3.211 orang penyantun aktif). Dalam perjumpaan itu terjadi proses saling belajar antara pengurus ASAK dengan anak ASAK dan orang tuanya, juga saling belajar antara pengurus ASAK dengan pastor parokinya, antara pastor paroki dengan anak ASAK dan keluarganya, sehingga menjadikan hidup lebih berarti.

Fase kedua, menurut Yanto merupakan suatu “katekese yang hidup,” di mana anak ASAK yang sudah kerja magang menjadi donatur ASAK dengan uang saku yang diterimanya. Selanjutnya, dengan keberadaan alumni Ayo Kuliah yang sudah bekerja di berbagai perusahaan, ASAK KAJ menapaki fase baru dengan terbentuknya Paguyuban Alumni ASAK. Pada kesempatan ini pengurus paguyuban menerima berkat perutusan dari Mgr. Suharyo.

Acara berikutnya adalah pengumuman pemenang lomba ASAK Got Talent – Anak ASAK Berprestasi. ASAK St. Monika diwakili oleh Axel Stephen Handoko yang meraih juara kedua dan Monica Julia Widjaja yang berada di posisi 13 dari 18 finalis (total 34 peserta dari 20 paroki). Untuk lomba ini, peserta hanya mengirimkan data pribadi dilampiri dengan daftar prestasi serta fotocopy piagam, sertifikat, foto-foto dan dokumen-dokumen pendukung lainnya atas prestasi mereka.

Axel berprestasi di bidang olah raga catur sejak belia. Prestasi terbaiknya adalah juara pertama Kejurda tingkat Provinsi Banten kelompok umur 15 tahun, dua tahun beturut-turut: 2016 dan 2017, sehingga berhak mewakili Provinsi Banten di kejuaraan tingkat nasional.

Monic sejak SD sudah memiliki prestasi di bidang akademik. Dia juga multi talenta: menulis, membaca Kitab Suci, serta ikut kompetisi membuat film pendek bersama teman-temannya di SMU. Sebagai juara pertama lomba baca Kitab Suci 1D ASAK KAJ, Monic bertugas menjadi lektris yang membacakan ujud-ujud doa umat dalam Misa Syukur 1D ASAK ini.

Terima kasih Bapa, kami boleh mengalami perjumpaan dengan Kristus dalam keluarga besar ASAK KAJ sehingga kami lahir baru dan menjadi ciptaan baru; menjadi virus penyebar bela rasa dalam hidup kami di tengah keluarga, lingkungan dan komunitas di mana kami tinggal. Semoga gerakan ASAK KAJ terus menjadi perpanjangan tangan kasih-Mu, sehingga generasi muda penerus Gereja-Mu dapat meraih masa depan penuh harapan, yang telah Engkau sediakan bagi mereka. Amin…

Wejangan tertulis dari Mgr. Suharyo dapat dibaca di sini.

@noviyanti.rahardjo

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Seminar Anak Muda “Creativepreneur”

Beruntung sekali Vrilly dan Monica dapat hadir dalam Seminar Anak Muda bertajuk Creativepreneur untuk mendengarkan sharing dan motivasi dari Yasa Singgih, penulis buku “Never Too Young To Be A Billionaire”.  Ini berkat kerja sama yang baik antar Sie Pendidikan Dekenat Tangerang, sehingga ASAK St. Monika mendapat info dan undangan terbatas untuk acara ini dari Ibu Yacinta, Ketua Sie Pendidikan Paroki Ciledug, melalui Sie Pendidikan Paroki Serpong, Gereja St. Monika. Acara ini digelar Sabtu siang tanggal 27 Mei 2017 yang lalu, di Gramedia World BSD City.

Dengan didampingi host Adi Putera Widjaja, founder Garudapreneur,  Yasa memulai kisahnya saat kelas 3 SMP, sepulang sekolah ia pergi ke Tanah Abang, walau  belum tau tempat yang dituju.  Setelah bertanya-tanya, akhirnya ia berhasil membeli 6 kaos dengan total nilai Rp 180.000 untuk dijual kepada teman-teman sekolahnya. Dari jualannya ini, modalnya kemudian terus berkembang, oleh karena itu ia semakin sering menyambangi Pasar Tanah Abang: dari seminggu sekali menjadi 2-3 kali. Sampai akhirnya, setelah kenal dengan beberapa pedagang di sana, ada seorang Oom supplier yang bersedia memberikan fasilitas kredit kepadanya: daripada sering bolak-balik dengan pembelian yang tidak terlalu banyak, ia diperbolehkan mengambil kaos lebih banyak dengan waktu pembayaran yang fleksibel. Alhasil, ia memborong 3 karung kaos untuk dijual…

Semasa SMA, ada beberapa temannya yang membuka bisnis kuliner. Yasa mulai ‘sibuk memperhatikan rumput tetangga yang lebih hijau’ dan akhirnya tergiur untuk masuk ke bisnis kuliner. Saat itulah hidupnya mulai kacau, karena pagi-siang sekolah, sore-malam bisnis kuliner, pulangnya urus bisnis kaos on line, pagi-pagi sebelum ke sekolah ia musti belanja untuk keperluan kedai kopinya. Karena tidak bisa fokus pada 2 bisnis yang dijalaninya, akhirnya kedua usaha itu bangkrut dengan kerugian mencapai ratusan juta rupiah. Kala itu usianya 18 tahun…

Beruntung Papa Yasa punya relasi bisnis yang punya usaha bikin sepatu, sehingga tahun berikutnya Yasa bisa membangun bisnis on line baru di bidang fashion dengan brand Men’s Republic. Dengan modal awal 4 lusin sepatu untuk dijual, kini Men’s Republic telah  menjadi merek fashion Indonesia yang digandrungi oleh pria muda. Pelanggan Men’s Republic kini tersebar di berbagai penjuru Indonesia, bahkan juga di 8 negara Asia.

Yasa mendirikan perusahaan untuk memayungi bisnis barunya ini, sambil tetap berkuliah di Binus University, jurusan Marketing Communication. Visi PT Paramita Singgih adalah menjadi perusahaan pemilik merk fesyen & consumer goods berbasis online terbanyak, terbesar & terbaik di Indonesia. Visi besar seorang Yasa sebagai entrepreneur muda adalah menjadikan Indonesia yang kuat dengan semangat entrepreneurship di Indonesia serta menjadikan bisnisnya kebanggaan bangsa Indonesia yang dapat maju hingga dunia internasional.

Beberapa tips yang diberikan Yasa untuk mengembangkan bisnis online, di antaranya:

  • Menjual barang yang dibutuhkan pasar
  • Pertimbangkan biaya distribusi/saluran pemasaran yang cost effective: toko off line atau on line? Toko sendiri atau melalui Dept Store?
  • Kelola keuangan bisnis dengan baik agar modal bisa terus berkembang
  • Jangan berkompetisi dengan membanting harga, karena lama kelamaan margin kita akan tergerus sehingga habis modal
  • Berkompetisi dengan membangun merk sendiri melalui value creation: produk terbaik, customer service yang ramah dan sangat membantu, fast delivery, free delivery Jabodetabek, kecepatan web, dsb
  • Membangun merk dengan membagikan produk kepada sosialita supaya mereka mengendorse merk kita
  • Membangun data base customer untuk mendapatkan pelanggan setia, dan tidak capek selalu mencari pelanggan baru
  • Memicu repeat order dengan memberikan voucher discount untuk berbelanja di hari ulang tahun pelanggan, juga di hari besar keagamaan pelanggan
  • Jangan ekspansi ke bisnis lain sebelum bisnis awal berjalan lancar dengan dukungan tim kerja serta sistem yang baik

Di tengah kesibukan kuliah dan mengelola bisnisnya (dengan dukungan tim Men’s Republic) Yasa berhasil meraih berbagai penghargaan di bidang kewirausahaan:

  • Juara 1 Wirausaha Muda Mandiri Nasional Kategori Mahasiswa Bidang Kreatif tahun 2015
  • Youth Marketeers Of The Year Award 2016 by Mark Plus
  • Forbes 30 Under 30 Top Promising Young Leaders, Daring Entrepreneurs and Game Changers in Asia by Forbes 2016
  • The Youngest Forbes 30 Under 30 Asia in Retail & E-commerce Category 2016

Yasa dan Adi juga meng-highlight bahwa prospek industri online di Indonesia saat ini masih sangat besar karena online retail masih kurang dari 1% dari nilai perdagangan di Indonesia. Target market untuk industri online (usia produktif) juga akan mengalami ledakan pada tahun 2033.

Jadi… Yuk, generasi Milenial jangan cuma surfing di dunia maya tanpa kegiatan produktif, tapi kembangkan potensi dan kreatifitasmu dengan menciptakan bisnis baru dan unik, yang dapat membuka lapangan kerja bagi orang lain.

It’s never too young to be a billionaire!!! 

@noviyanti.rahardjo
@felicia

 

Link:

yasasinggih.com/tentang-kami
garudapreneur.com/kompetisi-ide-bisnis

 

Sesi Jambore: Say No to Drugs

Artikel ini merupakan rangkaian liputan ASAK St. Monika di Jambore 1D ASAK KAJ. Ditulis oleh Angelia Putri, Anak ASAK St. Monika, peserta Jambore.

Pada tanggal 29 April sampai 1 Mei 2017, gerakan ASAK KAJ mengadakan acara Jambore 1D ASAK KAJ di BUPERTA, Cibubur dalam rangka 10 tahun berdirinya ASAK. Semua acara di Jambore ASAK ini benar-benar disiapkan dengan matang sehingga menarik dan bermanfaat. Salah satu mata acaranya adalah “Say No to Drugs” yang mengingatkan anak-anak muda ASAK untuk menghindari bahaya narkoba.

Say No to Drugs dalam Jambore ASAK dipandu oleh Brigjen.Pol. Dr. Victor Pudjiadi, SPB, FICS, DFM. Dalam paparannya, Pak Victor menginformasikan peningkatan pemakai narkoba yang telah mencapai 5,9 juta orang pada November 2015 dan 22% di antaranya adalah pelajar dan mahasiswa. Hal ini jelas merupakan masalah yang membutuhkan perhatian serius dan para panitia ASAK telah memberikan salah satu pencegahan dengan mengadakan sesi Say No To Drugs.

Sesi Say No to Drugs ini dikemas dengan penyampaian yang berbeda serta lebih interaktif, tidak seperti seminar lainnya, sehingga memudahkan anak-anak muda menangkap maksud di dalamnya. Bapak Victor menjelaskan tentang bahaya narkoba dengan menggunakan berbagai macam alat bantu yang menarik, seperti video-video, gambar meme bahkan sulap yang juga melibatkan para peserta: anak-anak ASAK.

Acara Say No To Drugs, yang tadinya saya kira akan membosankan dan membuat ngantuk, karena diadakan pada malam hari yang gerimis, dengan durasi kurang lebih 3 jam, malah membuat saya melek serta dipenuhi tawa dan antusiasme dari anak-anak ASAK. Sesi Say No To Drugs ditutup dengan pemberian kenang-kenangan kepada Bapak Victor.


@angelia.putri – berdiri no. 3 dari kiri

Sesi Jambore: Teamwork

Artikel ini merupakan rangkaian liputan ASAK St. Monika di Jambore 1D ASAK KAJ. Ditulis oleh Vrilly Claudia Defita Berdaria, Anak ASAK St. Monika, peserta Jambore.

Sesi TEAMWORK saat itu menuntut kerja sama, pengorbanan teman, dan keikhlasan hati menerima kenyataan. Kami dituntut untuk bisa bekerja sama dengan teman-teman kami, yang sebagian besar kami tidak terlalu kenal, bahkan mungkin tidak mengenal satu sama lain.

Kami harus cepat mendapat kawan supaya dapat mengikuti permainan sampai akhir. Bagaikan mencari mitra kerja yang tepat untuk mencapai tujuan bersam, walaupun akhirnya mungkin kerja sama itu tidak berlaku lagi dan berakhir dengan adanya yang dikorbankan atau mungkin diri kita sendiri yang dikorbankan.

Permainan ini seru dan cukup memacu adrenalin, sangat berkesan …

Terima kasih Pak Frans.

@vrilly.claudia.defita.berdaria – berdiri no. 2 dari kanan

Sesi Jambore: Pelestarian Lingkungan Hidup

Artikel ini merupakan rangkaian liputan ASAK St. Monika di Jambore 1D ASAK KAJ. Ditulis oleh Yovita Kidi, Anak ASAK St. Monika, peserta Jambore.

Pada tanggal 29 April 2017, sebanyak kurang lebih 970 orang anak ASAK dari berbagai paroki di Keuskupan Agung Jakarta, berkumpul di lapangan yang luas untuk mengikuti upacara pembukaan sebagai tanda dimulainya Jambore 1D ASAK KAJ. Seluruh peserta berbaris sesuai dengan blok yang ditentukan oleh panitia. Setelah upacara pembukaan seluruh rangkaian acara siap dimulai sampai dengan tanggal 1 Mei 2017.

Selama tiga hari mengikuti acara Jambore 1D ASAK, banyak sekali acara yang mengesankan, tapi acara yang paling mengesankan dan membuat saya tertarik adalah acara menjaga lingkungan. Saya sendiri tertarik karena menurut saya, jaman sekarang banyak orang yang kurang peduli dengan lingkungan.

“GROPESH itu apa sih? Nama GROPESH itu sebenarnya berasal dari kepanjangan Grombolan Peduli Sampah.”

Acara menjaga lingkungan ini dibawakan oleh organisasi orang muda katolikyang didirikan pada tahun 2007. Sebagai pendorong gerakan ini adalah Romo Andang L Binawan, SJ. Organisasi ini biasa disebut GROPESH (gerakan orang muda peduli sampah). Namun kemudian, dalam Rapat Kerja Kategorial se-Keuskupan Agung Jakarta (KAJ) bersama Uskup, nama tersebut dirubah menjadi Gerakan Orang Muda Peduli Sampah. Tentu saja singkatannya tetap GROPESH (keren kan Uskupnya).

GROPESH juga memberikan beberapa macam bentuk pelatihan, seperti: cara membuat pupuk kompos skala rumah tangga, kompos metode Takakura, penggunaan dan cara membuat bor Biopori, kerajinan tangan dari bahan-bahan sampah an-organik dan cara pemilahan sampah kepada semua peserta jambore. GROPESH memiliki banyak cita-cita yang masih harus diraih dan diwujudkan. Sesuai dengan visinya yaitu, menjadi kelompok orang muda yang unggul dalam mewujudkan habitus bersih dan kepedulian terhadap lingkungan sebagai bagian dari iman, khususnya dalam lingkup Jakarta, Tangerang dan Bekasi.

Kenapa GROPESH sangat peduli dengan sampah? Karena sampah adalah sebuah isu besar yang seperti fenomena gunung es. Isu yang terlihat sepele/kecil, namun menyimpan begitu banyak permasalahan di baliknya… yang tentunya tidak terlihat.

Contohnya begini, Setiap orang pasti akan menghasilkan sampah. Baik itu sampah sisa makanan sehari-hari ataupun sampah sisa kemasan bekas jajan di supermarket. Ya tidak? Kalau pun tidak suka jajan, tapi suka rokok, ya pasti menghasilkan puntung rokok. Nah, kelihatannya sedikit yah, sampah yang seseorang hasilkan setiap hari? Ya… paling-paling seember tempat sampah kecil deh kira-kira. Tapi coba dipikirkan, satu orang menghasilkan sampah sebanyak1 tong sampah kecil, bagaimana dengan 200 juta jiwa penduduk Indonesia? Berarti ada 200 juta tong sampah. Belum sampah industri, sampah perkantoran, maupun sampah lain-lainnya. Itu baru dalam 1 hari. Bagaimana dalam 1 bulan? Atau pun 1 tahun? Terbayang kan?

Masalah sampah tidak semata-mata sampai di situ lho. Masih ada banyak lagi. Misalkan, masalah pencemaran udara dan tanah di TPS (Tempat Pembuangan Sementara) ataupun TPA (Tempat Pembuangan Akhir). Kamu pikir sampah yang ditumpuk di TPS/TPA tidak bisa mencemari tanah/udara/air di sekitarnya? Salah besar! Sampah yang sudah tertumpuk jadi satu, bisa menghasilkan cairan kimia dan juga gas yang cukup berbahaya jika terhirup.

Kesadaran terhadap penanganan sampah dan kerusakan lingkungan hidup mungkin belum begitu populer untuk saat ini. Akan tetapi, saya meyakini bahwa dalam waktu yang tidak lama, kebutuhan untuk mengolah sampah dan menjaga kelestarian lingkungan hidup akan menjadi tuntutan yang tidak dapat dihindari. Ketika global warming semakin parah, ketika jumlah hutan dan tanaman semakin menyusut, ketika bumi dan alam tidak semakin ramah, orang mungkin baru akan menyadari bahwa mereka berada dalam bahaya. Keadaan yang baru saya sebutkan tidak seharusnya terjadi jika mulai saat ini setiap orang berusaha untuk memperhatikan sampah dan kerusakan lingkungan hidup.

Usaha sekecil apa pun yang kita lakukan saat ini, pasti akan sangat dihargai oleh anak cucu kita yang akan hidup di waktu yang akan datang.


@yovita.kidi – berdiri no. 2 dari kiri

Jambore 1D ASAK KAJ 2017

Artikel ini merupakan rangkaian liputan ASAK St. Monika di Jambore 1D ASAK KAJ

Salah satu rangkaian acara dalam rangka memperingati satu dekade ASAK KAJ adalah jambore yang diikuti anak-anak Ayo Sekolah kelas 10 ke atas dan anak-anak Ayo Kuliah dari berbagai Paroki di Keuskupan Agung Jakarta. Jambore 1D ASAK KAJ diselenggarakan di Bumi Perkemahan dan Graha Wisata Pramuka (Buperta) Cibubur tanggal 29 April-1 Mei 2017. Tema yang diusung adalah “Alam Kita, Masa Depan Kita” dengan sub tema “Say No to Drugs, Berkarya untuk Gereja dan Bangsa.” Partisipan dari ASAK St. Monika terdiri dari 19 anak ASAK dengan didampingi oleh lima pembina.

Sekitar pukul 7 pagi peserta mulai berdatangan ke lokasi acara. Setelah melakukan registrasi dan mendapat ID card serta atribut Jambore, sekitar pukul 8:40 peserta boleh masuk tenda untuk meletakkan perlengkapan camping yang dibawa, bersosialisasi dengan teman-teman baru dan rehat makan siang sambil menunggu acara pembukaan Jambore pada pukul satu siang. Jambore 1D ASAK KAJ ini dihadiri lebih dari 900 anak ASAK dan didukung oleh lebih dari 200 orang panitia dan pembina ASAK.

Berbagai sesi digelar selama tiga hari pelaksanaan Jambore, di antaranya: team work, jungle night, Misa Jambore, peningkatan iman Katolik, time management, say no to drugs (bekerja sama dengan Badan Narkotika Nasional) serta pelestarian lingkungan hidup/pengetahuan memilah sampah.

Kebersamaan selama tiga hari membuat anak-anak ASAK boleh saling mengenal satu sama lain, baik teman-teman dalam satu paroki maupun dari paroki lain dalam lingkup Keuskupan Agung Jakarta. Mereka juga saling sharing mengenai pergulatan mereka, yang karena keterbatasan biaya tidak bisa bersekolah di sekolah yang mereka inginkan atau kuliah di jurusan yang mereka tuju. Namun mereka selalu bersyukur, karena dengan adanya ASAK mereka bisa melanjutkan pendidikan, sehingga tudak putus sekolah.

Sharing kesan-kesan dari peserta dan pengurus ASAK St. Monika yang berpartisipasi dalam Jambore 1D ASAK klik di sini.

Proficiat untuk seluruh peserta Jambore 1D ASAK dan bravo untuk panitia yang telah bekerja keras selama lebih dari 6 bulan agar dapat mempersiapkan acara akbar ini dengan baik. Terima kasih banyak untuk semua donatur dan sponsor yang telah mendukung acara ini. Tuhan memberkati keluarga besar ASAK KAJ.

Mari terus berkarya untuk Gereja dan bangsa kita…

@alfa.leonora.sangkala
@diana.adeyani
@noviyanti.rahardjo