Gerakan ASAK St. Monika

“Dengan menjadi penyantun tidak membuatnya menjadi miskin, tetapi hatinya penuh dengan sukacita.”
Yanto J. Wibisono, Penggagas ASAK, Komisi Pengembangan Sosial Ekonomi Keuskupan Agung Jakarta

Gerakan  Ayo Sekolah Ayo Kuliah (ASAK) merupakan gerakan orang tua asuh, yaitu ada penyantun tetap yang membantu anak santun, yang bersifat dari umat untuk umat.

Tujuan utamanya membantu anak-anak di Paroki Serpong Santa Monika yang kondisinya kurang beruntung dapat melangkah ke masa depan yang lebih baik melalui kesempatan memperoleh pendidikan.

Segeralah bergabung dengan kami. Detil informasi program ASAK Paroki Serpong Santa Monika bisa dilihat pada tautan ini, sedangkan data statistik anak ASAK bisa dilihat di sini.

Iklan

Sejuta Koin untuk ASAK

Bapak/Ibu Ketua Lingkungan yg terkasih,

Menjelang Natal ini kami mau mengajak anak-anak BIA di Paroki St. Monika untuk turut serta dalam kegiatan  SEJUTA KOIN UNTUK ASAK.

Program apa itu “Sejuta Koin untuk ASAK”?

Program ini berupa Celengan yang akan dibagikan kepada anak-anak BIA + BIR St. Monika dan hasilnya nanti akan disumbangkan untuk mendanai program ASAK St. Monika. Dengan celengan ini, selain anak- anak dapat belajar menabung sejak usia dini, juga berlatih berempati dan belarasa dengan berbagi kepada teman-teman yang kesulitan membayar uang sekolah atau kuliah.

Apa itu ASAK St. Monika?

ASAK (Ayo Sekolah Ayo Kuliah) St. Monika merupakan program memberi santunan kepada umat St. Monika yang kurang beruntung agar dapat melanjutkan sekolah atau kuliah.

Mekanisme Pembagian dan Pengumpulan

Celengan Sejuta Koin untuk ASAK akan dibagikan oleh Pengurus BIA Wilayah/ Lingkungan ke masing-masing anak BIA + BIR. Setiap hari sampai Natal nanti masing-masing anak diharapkan mengisi celengan Natalnya dan membawanya ke gereja St. Monika untuk dikumpulkan pada Misa Natal Anak tgl 25 Desember 2017.

Untuk mensukseskan program ini, kami mohon dukungan  dari Korwil/Kaling untuk juga melibatkan anak-anak seusia BIA + BIR yang belum ikut/aktif dalam kegiatan BIA + BIR. Bagi anak-anak tersebut, bila berminat ikut program Celengan ini,  dapat mendaftar ke pengurus BIA di lingkungan/paroki. Saat ini sedang dibagikan 1.080 celengan kepada anak BIA+BIR yang aktif.

Terimakasih

Kerjasama Sie PSE + BIA

@AlbertusMCJayanto

Seminar Anak Muda “Creativepreneur”

Beruntung sekali Vrilly dan Monica dapat hadir dalam Seminar Anak Muda bertajuk Creativepreneur untuk mendengarkan sharing dan motivasi dari Yasa Singgih, penulis buku “Never Too Young To Be A Billionaire”.  Ini berkat kerja sama yang baik antar Sie Pendidikan Dekenat Tangerang, sehingga ASAK St. Monika mendapat info dan undangan terbatas untuk acara ini dari Ibu Yacinta, Ketua Sie Pendidikan Paroki Ciledug, melalui Sie Pendidikan Paroki Serpong, Gereja St. Monika. Acara ini digelar Sabtu siang tanggal 27 Mei 2017 yang lalu, di Gramedia World BSD City.

Dengan didampingi host Adi Putera Widjaja, founder Garudapreneur,  Yasa memulai kisahnya saat kelas 3 SMP, sepulang sekolah ia pergi ke Tanah Abang, walau  belum tau tempat yang dituju.  Setelah bertanya-tanya, akhirnya ia berhasil membeli 6 kaos dengan total nilai Rp 180.000 untuk dijual kepada teman-teman sekolahnya. Dari jualannya ini, modalnya kemudian terus berkembang, oleh karena itu ia semakin sering menyambangi Pasar Tanah Abang: dari seminggu sekali menjadi 2-3 kali. Sampai akhirnya, setelah kenal dengan beberapa pedagang di sana, ada seorang Oom supplier yang bersedia memberikan fasilitas kredit kepadanya: daripada sering bolak-balik dengan pembelian yang tidak terlalu banyak, ia diperbolehkan mengambil kaos lebih banyak dengan waktu pembayaran yang fleksibel. Alhasil, ia memborong 3 karung kaos untuk dijual…

Semasa SMA, ada beberapa temannya yang membuka bisnis kuliner. Yasa mulai ‘sibuk memperhatikan rumput tetangga yang lebih hijau’ dan akhirnya tergiur untuk masuk ke bisnis kuliner. Saat itulah hidupnya mulai kacau, karena pagi-siang sekolah, sore-malam bisnis kuliner, pulangnya urus bisnis kaos on line, pagi-pagi sebelum ke sekolah ia musti belanja untuk keperluan kedai kopinya. Karena tidak bisa fokus pada 2 bisnis yang dijalaninya, akhirnya kedua usaha itu bangkrut dengan kerugian mencapai ratusan juta rupiah. Kala itu usianya 18 tahun…

Beruntung Papa Yasa punya relasi bisnis yang punya usaha bikin sepatu, sehingga tahun berikutnya Yasa bisa membangun bisnis on line baru di bidang fashion dengan brand Men’s Republic. Dengan modal awal 4 lusin sepatu untuk dijual, kini Men’s Republic telah  menjadi merek fashion Indonesia yang digandrungi oleh pria muda. Pelanggan Men’s Republic kini tersebar di berbagai penjuru Indonesia, bahkan juga di 8 negara Asia.

Yasa mendirikan perusahaan untuk memayungi bisnis barunya ini, sambil tetap berkuliah di Binus University, jurusan Marketing Communication. Visi PT Paramita Singgih adalah menjadi perusahaan pemilik merk fesyen & consumer goods berbasis online terbanyak, terbesar & terbaik di Indonesia. Visi besar seorang Yasa sebagai entrepreneur muda adalah menjadikan Indonesia yang kuat dengan semangat entrepreneurship di Indonesia serta menjadikan bisnisnya kebanggaan bangsa Indonesia yang dapat maju hingga dunia internasional.

Beberapa tips yang diberikan Yasa untuk mengembangkan bisnis online, di antaranya:

  • Menjual barang yang dibutuhkan pasar
  • Pertimbangkan biaya distribusi/saluran pemasaran yang cost effective: toko off line atau on line? Toko sendiri atau melalui Dept Store?
  • Kelola keuangan bisnis dengan baik agar modal bisa terus berkembang
  • Jangan berkompetisi dengan membanting harga, karena lama kelamaan margin kita akan tergerus sehingga habis modal
  • Berkompetisi dengan membangun merk sendiri melalui value creation: produk terbaik, customer service yang ramah dan sangat membantu, fast delivery, free delivery Jabodetabek, kecepatan web, dsb
  • Membangun merk dengan membagikan produk kepada sosialita supaya mereka mengendorse merk kita
  • Membangun data base customer untuk mendapatkan pelanggan setia, dan tidak capek selalu mencari pelanggan baru
  • Memicu repeat order dengan memberikan voucher discount untuk berbelanja di hari ulang tahun pelanggan, juga di hari besar keagamaan pelanggan
  • Jangan ekspansi ke bisnis lain sebelum bisnis awal berjalan lancar dengan dukungan tim kerja serta sistem yang baik

Di tengah kesibukan kuliah dan mengelola bisnisnya (dengan dukungan tim Men’s Republic) Yasa berhasil meraih berbagai penghargaan di bidang kewirausahaan:

  • Juara 1 Wirausaha Muda Mandiri Nasional Kategori Mahasiswa Bidang Kreatif tahun 2015
  • Youth Marketeers Of The Year Award 2016 by Mark Plus
  • Forbes 30 Under 30 Top Promising Young Leaders, Daring Entrepreneurs and Game Changers in Asia by Forbes 2016
  • The Youngest Forbes 30 Under 30 Asia in Retail & E-commerce Category 2016

Yasa dan Adi juga meng-highlight bahwa prospek industri online di Indonesia saat ini masih sangat besar karena online retail masih kurang dari 1% dari nilai perdagangan di Indonesia. Target market untuk industri online (usia produktif) juga akan mengalami ledakan pada tahun 2033.

Jadi… Yuk, generasi Milenial jangan cuma surfing di dunia maya tanpa kegiatan produktif, tapi kembangkan potensi dan kreatifitasmu dengan menciptakan bisnis baru dan unik, yang dapat membuka lapangan kerja bagi orang lain.

It’s never too young to be a billionaire!!! 

@noviyanti.rahardjo
@felicia

 

Link:

yasasinggih.com/tentang-kami
garudapreneur.com/kompetisi-ide-bisnis

 

Sesi Jambore: Say No to Drugs

Artikel ini merupakan rangkaian liputan ASAK St. Monika di Jambore 1D ASAK KAJ. Ditulis oleh Angelia Putri, Anak ASAK St. Monika, peserta Jambore.

Pada tanggal 29 April sampai 1 Mei 2017, gerakan ASAK KAJ mengadakan acara Jambore 1D ASAK KAJ di BUPERTA, Cibubur dalam rangka 10 tahun berdirinya ASAK. Semua acara di Jambore ASAK ini benar-benar disiapkan dengan matang sehingga menarik dan bermanfaat. Salah satu mata acaranya adalah “Say No to Drugs” yang mengingatkan anak-anak muda ASAK untuk menghindari bahaya narkoba.

Say No to Drugs dalam Jambore ASAK dipandu oleh Brigjen.Pol. Dr. Victor Pudjiadi, SPB, FICS, DFM. Dalam paparannya, Pak Victor menginformasikan peningkatan pemakai narkoba yang telah mencapai 5,9 juta orang pada November 2015 dan 22% di antaranya adalah pelajar dan mahasiswa. Hal ini jelas merupakan masalah yang membutuhkan perhatian serius dan para panitia ASAK telah memberikan salah satu pencegahan dengan mengadakan sesi Say No To Drugs.

Sesi Say No to Drugs ini dikemas dengan penyampaian yang berbeda serta lebih interaktif, tidak seperti seminar lainnya, sehingga memudahkan anak-anak muda menangkap maksud di dalamnya. Bapak Victor menjelaskan tentang bahaya narkoba dengan menggunakan berbagai macam alat bantu yang menarik, seperti video-video, gambar meme bahkan sulap yang juga melibatkan para peserta: anak-anak ASAK.

Acara Say No To Drugs, yang tadinya saya kira akan membosankan dan membuat ngantuk, karena diadakan pada malam hari yang gerimis, dengan durasi kurang lebih 3 jam, malah membuat saya melek serta dipenuhi tawa dan antusiasme dari anak-anak ASAK. Sesi Say No To Drugs ditutup dengan pemberian kenang-kenangan kepada Bapak Victor.


@angelia.putri – berdiri no. 3 dari kiri

Sesi Jambore: Teamwork

Artikel ini merupakan rangkaian liputan ASAK St. Monika di Jambore 1D ASAK KAJ. Ditulis oleh Vrilly Claudia Defita Berdaria, Anak ASAK St. Monika, peserta Jambore.

Sesi TEAMWORK saat itu menuntut kerja sama, pengorbanan teman, dan keikhlasan hati menerima kenyataan. Kami dituntut untuk bisa bekerja sama dengan teman-teman kami, yang sebagian besar kami tidak terlalu kenal, bahkan mungkin tidak mengenal satu sama lain.

Kami harus cepat mendapat kawan supaya dapat mengikuti permainan sampai akhir. Bagaikan mencari mitra kerja yang tepat untuk mencapai tujuan bersam, walaupun akhirnya mungkin kerja sama itu tidak berlaku lagi dan berakhir dengan adanya yang dikorbankan atau mungkin diri kita sendiri yang dikorbankan.

Permainan ini seru dan cukup memacu adrenalin, sangat berkesan …

Terima kasih Pak Frans.

@vrilly.claudia.defita.berdaria – berdiri no. 2 dari kanan

Sesi Jambore: Pelestarian Lingkungan Hidup

Artikel ini merupakan rangkaian liputan ASAK St. Monika di Jambore 1D ASAK KAJ. Ditulis oleh Yovita Kidi, Anak ASAK St. Monika, peserta Jambore.

Pada tanggal 29 April 2017, sebanyak kurang lebih 970 orang anak ASAK dari berbagai paroki di Keuskupan Agung Jakarta, berkumpul di lapangan yang luas untuk mengikuti upacara pembukaan sebagai tanda dimulainya Jambore 1D ASAK KAJ. Seluruh peserta berbaris sesuai dengan blok yang ditentukan oleh panitia. Setelah upacara pembukaan seluruh rangkaian acara siap dimulai sampai dengan tanggal 1 Mei 2017.

Selama tiga hari mengikuti acara Jambore 1D ASAK, banyak sekali acara yang mengesankan, tapi acara yang paling mengesankan dan membuat saya tertarik adalah acara menjaga lingkungan. Saya sendiri tertarik karena menurut saya, jaman sekarang banyak orang yang kurang peduli dengan lingkungan.

“GROPESH itu apa sih? Nama GROPESH itu sebenarnya berasal dari kepanjangan Grombolan Peduli Sampah.”

Acara menjaga lingkungan ini dibawakan oleh organisasi orang muda katolikyang didirikan pada tahun 2007. Sebagai pendorong gerakan ini adalah Romo Andang L Binawan, SJ. Organisasi ini biasa disebut GROPESH (gerakan orang muda peduli sampah). Namun kemudian, dalam Rapat Kerja Kategorial se-Keuskupan Agung Jakarta (KAJ) bersama Uskup, nama tersebut dirubah menjadi Gerakan Orang Muda Peduli Sampah. Tentu saja singkatannya tetap GROPESH (keren kan Uskupnya).

GROPESH juga memberikan beberapa macam bentuk pelatihan, seperti: cara membuat pupuk kompos skala rumah tangga, kompos metode Takakura, penggunaan dan cara membuat bor Biopori, kerajinan tangan dari bahan-bahan sampah an-organik dan cara pemilahan sampah kepada semua peserta jambore. GROPESH memiliki banyak cita-cita yang masih harus diraih dan diwujudkan. Sesuai dengan visinya yaitu, menjadi kelompok orang muda yang unggul dalam mewujudkan habitus bersih dan kepedulian terhadap lingkungan sebagai bagian dari iman, khususnya dalam lingkup Jakarta, Tangerang dan Bekasi.

Kenapa GROPESH sangat peduli dengan sampah? Karena sampah adalah sebuah isu besar yang seperti fenomena gunung es. Isu yang terlihat sepele/kecil, namun menyimpan begitu banyak permasalahan di baliknya… yang tentunya tidak terlihat.

Contohnya begini, Setiap orang pasti akan menghasilkan sampah. Baik itu sampah sisa makanan sehari-hari ataupun sampah sisa kemasan bekas jajan di supermarket. Ya tidak? Kalau pun tidak suka jajan, tapi suka rokok, ya pasti menghasilkan puntung rokok. Nah, kelihatannya sedikit yah, sampah yang seseorang hasilkan setiap hari? Ya… paling-paling seember tempat sampah kecil deh kira-kira. Tapi coba dipikirkan, satu orang menghasilkan sampah sebanyak1 tong sampah kecil, bagaimana dengan 200 juta jiwa penduduk Indonesia? Berarti ada 200 juta tong sampah. Belum sampah industri, sampah perkantoran, maupun sampah lain-lainnya. Itu baru dalam 1 hari. Bagaimana dalam 1 bulan? Atau pun 1 tahun? Terbayang kan?

Masalah sampah tidak semata-mata sampai di situ lho. Masih ada banyak lagi. Misalkan, masalah pencemaran udara dan tanah di TPS (Tempat Pembuangan Sementara) ataupun TPA (Tempat Pembuangan Akhir). Kamu pikir sampah yang ditumpuk di TPS/TPA tidak bisa mencemari tanah/udara/air di sekitarnya? Salah besar! Sampah yang sudah tertumpuk jadi satu, bisa menghasilkan cairan kimia dan juga gas yang cukup berbahaya jika terhirup.

Kesadaran terhadap penanganan sampah dan kerusakan lingkungan hidup mungkin belum begitu populer untuk saat ini. Akan tetapi, saya meyakini bahwa dalam waktu yang tidak lama, kebutuhan untuk mengolah sampah dan menjaga kelestarian lingkungan hidup akan menjadi tuntutan yang tidak dapat dihindari. Ketika global warming semakin parah, ketika jumlah hutan dan tanaman semakin menyusut, ketika bumi dan alam tidak semakin ramah, orang mungkin baru akan menyadari bahwa mereka berada dalam bahaya. Keadaan yang baru saya sebutkan tidak seharusnya terjadi jika mulai saat ini setiap orang berusaha untuk memperhatikan sampah dan kerusakan lingkungan hidup.

Usaha sekecil apa pun yang kita lakukan saat ini, pasti akan sangat dihargai oleh anak cucu kita yang akan hidup di waktu yang akan datang.


@yovita.kidi – berdiri no. 2 dari kiri

Jambore 1D ASAK KAJ 2017

Artikel ini merupakan rangkaian liputan ASAK St. Monika di Jambore 1D ASAK KAJ

Salah satu rangkaian acara dalam rangka memperingati satu dekade ASAK KAJ adalah jambore yang diikuti anak-anak Ayo Sekolah kelas 10 ke atas dan anak-anak Ayo Kuliah dari berbagai Paroki di Keuskupan Agung Jakarta. Jambore 1D ASAK KAJ diselenggarakan di Bumi Perkemahan dan Graha Wisata Pramuka (Buperta) Cibubur tanggal 29 April-1 Mei 2017. Tema yang diusung adalah “Alam Kita, Masa Depan Kita” dengan sub tema “Say No to Drugs, Berkarya untuk Gereja dan Bangsa.” Partisipan dari ASAK St. Monika terdiri dari 19 anak ASAK dengan didampingi oleh lima pembina.

Sekitar pukul 7 pagi peserta mulai berdatangan ke lokasi acara. Setelah melakukan registrasi dan mendapat ID card serta atribut Jambore, sekitar pukul 8:40 peserta boleh masuk tenda untuk meletakkan perlengkapan camping yang dibawa, bersosialisasi dengan teman-teman baru dan rehat makan siang sambil menunggu acara pembukaan Jambore pada pukul satu siang. Jambore 1D ASAK KAJ ini dihadiri lebih dari 900 anak ASAK dan didukung oleh lebih dari 200 orang panitia dan pembina ASAK.

Berbagai sesi digelar selama tiga hari pelaksanaan Jambore, di antaranya: team work, jungle night, Misa Jambore, peningkatan iman Katolik, time management, say no to drugs (bekerja sama dengan Badan Narkotika Nasional) serta pelestarian lingkungan hidup/pengetahuan memilah sampah.

Kebersamaan selama tiga hari membuat anak-anak ASAK boleh saling mengenal satu sama lain, baik teman-teman dalam satu paroki maupun dari paroki lain dalam lingkup Keuskupan Agung Jakarta. Mereka juga saling sharing mengenai pergulatan mereka, yang karena keterbatasan biaya tidak bisa bersekolah di sekolah yang mereka inginkan atau kuliah di jurusan yang mereka tuju. Namun mereka selalu bersyukur, karena dengan adanya ASAK mereka bisa melanjutkan pendidikan, sehingga tudak putus sekolah.

Sharing kesan-kesan dari peserta dan pengurus ASAK St. Monika yang berpartisipasi dalam Jambore 1D ASAK klik di sini.

Proficiat untuk seluruh peserta Jambore 1D ASAK dan bravo untuk panitia yang telah bekerja keras selama lebih dari 6 bulan agar dapat mempersiapkan acara akbar ini dengan baik. Terima kasih banyak untuk semua donatur dan sponsor yang telah mendukung acara ini. Tuhan memberkati keluarga besar ASAK KAJ.

Mari terus berkarya untuk Gereja dan bangsa kita…

@alfa.leonora.sangkala
@diana.adeyani
@noviyanti.rahardjo

Sharing Jambore: Menggapai Mimpi

Artikel ini merupakan rangkaian liputan ASAK St. Monika di Jambore 1D ASAK KAJ. Sharing pribadi Helen Maycellina, Anak ASAK St. Monika, peserta Jambore.

Pertama-tama saya merasa bersyukur kepada Allah Bapa Yang Maha Kuasa dan para Kudus, karena telah memberikan saya kesempatan untuk bertemu dan mengenal orang-orang yang masih mempedulikan saya. Saya juga ingin mengucapkan terima kasih kepada seluruh pengurus ASAK, terutama Bapa Uskup dan pengurus ASAK di Santa Monika. Tidak lupa juga kakak-kakak yang menjadi panitia jambore dan teman-teman sekalian yang telah menjadi teman baru dan memberikan arti baru dalam kehidupan saya…

Kegiatan Jambore 1 Dekade ASAK benar benar memberikan pengertian baru bagi saya, di mana saya lebih belajar bersosialisasi dengan orang-orang sekitar saya dan lebih mempedulikan orang di sekitar saya. Tadinya saya merupakan orang yang cuek dengan sekitar saya, kurang bersosialisasi dan selalu gengsi terhadap orang lain. Tapi di keluarga ASAK saya belajar kalau sosialisasi itu sangat sangat diperlukan saat ini… Jangan selalu menganggap diri rendah, karena hal itu yang selama ini membuat saya kurang bersosialisasi dengan lingkungan saya.

Juga sebelum itu pernah terpikir kalau saya ikut jambore apa serunya? Cuman kemping doang seperti kemping waktu saya SMP… Yah tidur malem, bangun pagi, makan buat sendiri, tenda bangun sendiri, disiplin… Pulang pulang badan lelah… Itu yang pertama kali saya pikirkan, tapi Papa paksa supaya saya ikut jambore. Yah pada akhirnya saya ikut, meskipun ada perasaan yang gak enak, karena paling telat. Saat itu pikiran negatif ada aja yah, saya takutnya nggak ada temen jadi diem-dieman tapi… Ternyata yang saya pikirkan salah semua. Semua orang menerima orang lain dengan ramah dan apa adanya. Suatu pencerahan hati bagi saya… Saya merasa nyaman berada dekat temen-temen ASAK, baru masuk tenda aja kita udah saling cerita, saling becanda, yah seru seruan lah…

Bagian yang saya suka saat jambore: semuanya, tapi ada satu sesi yang paling saya suka saat penjelasan tentang “DREAM”. Rasanya ingin nangis saat itu, entah kenapa, ada dorongan agar saya lebih berusaha menggapai cita cita dan semua mimpi yang saya mau, tidak ada kata menyerah saat itu, tetapi tetap berusaha meskipun gagal. Kata yang saya dapat untuk memotivasi diri saya adalah saya memiliki mimpi, banyak mimpi… Tapi saya bingung bagaimana untuk mengejarnya, selain dengan cara belajar dan berusaha. Namun ada hal lain yang saya dapatkan, rasanya susah untuk diungkapkan, tapi bisa saya rasakan. Saya sangat bersyukur sekali dengan adanya kegiatan JAMBORE 1 DEKADE ASAK KAJ. Rasanya mau waktunya diulang lagi, karena banyak banget kenangan manisnya: kekeluargannya, solidnya, kelucuannya, sosialisasinya… TOP banget deh.

Sejak pulang jambore, banyak perubahan yang saya dapatkan, saya lebih mudah bergaul dan lebih menghargai orang lain, mau memaafkan orang yang sudah melukai saya dengan harapan dia akan berubah.

Saya mengucapkan rasa terima kasih yang dalammmmm sekali kepada seluruh keluarga ASAK dan pengurus ASAK di Santa Monika, karena berkat kalian semua, saya memiliki motivasi ekstra dalam diri saya. Saya telah diberi kesempatan, jalan untuk meraih cita cita, motivasi untuk hidup saya dan banyak manfaat lainnya bagi hidup saya, untuk masa depan saya… Saya harap ASAK dan teman-teman ASAK selalu ada untuk saya, karena kalian semua merupakan orang-orang yang telah membuat sejarah dalam hidup saya, bagi masa mendatang saya.

Terima Kasih ASAK

@helen.maycellina – duduk paling kiri pada foto di awal artikel

Kesan-kesan Jambore: Seru dan Asiikkk…

Artikel ini merupakan rangkaian liputan ASAK St. Monika di Jambore 1D ASAK KAJ

Berikut kesan-kesan peserta Jambore 1D ASAK KAJ dari Paroki Serpong, Gereja St. Monika

“Luar biasa senang karena jadi punya banyak teman yang bisa dibilang ‘in the same boat’. Pembawa acaranya pun asik-asik semua, terutama saat dibawakan oleh Kak Rocky… Keren sekali dengan pembawaannya yang pas dengan anak jaman sekarang.
Hal terpenting, pelajaran yang saya dapatkan 3 hari itu, yang tidak terlupakan. Juga banyak pengalaman yang belom pernah saya dapetin sebelumnya.
Kalau ada acara lagi, diharapkan jangan outdoor terus, supaya bisa lebih memahami pelajaran yang diberikan dengan lebih nyaman.
Terima kasih kepada semua panitia dan donatur pada Jambore ASAK 1D dan saya bersyukur bisa ikut berpartisipasi pada acara tersebut. Gbu” – Vrilly Claudia Defita Berdaria

“Kesannya, hari pertama biasa aja dan panas banget karena di bawah matahari lama banget… Tapi sorenya pas Kak MC rambut pirang (lupa nama) datang, jadi naikin mood.
Trus hari kedua karena sudah kenal teman setenda jadi makin seru…
Gamesnya biasa aja, tapi kebersamaannya luuar biasa… Sayang banget di hari ketiga ga dapet hadiah apa-apa.” – Kent Yozardi

“Nambah temen banyak banget, dapat inspirasi dan motivasi juga, bisa kenal temen dari gereja lain juga.” – Yovita Kidi

“Senang karena bisa menambah teman dan acaranya seru… Juga dapat menambah edukasi.
Semoga acara ini bisa diulang lagi, mungkin 2 tahun sekali… Tks” – Charles & Andre

“Seneng karena bisa ketemu temen baru seperjuangan yang bisa saling dukung buat bangkit dari keterpurukan dan belajar banyak hal baru, juga belajar buat selalu bersyukur. Acaranya seru, walau panas banget kalo siang. Tapi semua panas dan capek keganti sama keseruan bareng keluarga baru dari teman-teman ASAK se-KAJ”. – Josephine Beata Mattovana

“Pengalaman menarik bagi saya saat bertugas sebagai Putera Altar bersama sembilan Misdinar dari paroki lain, yang berbeda tata cara/tata gerak tugasnya.
Kami saling bertukar informasi tentang tata gerak liturgi kami. Hasilnya, saat kami eksekusi dalam tugas bersama Bapak Vikjen, kami bertugas dengan cukup baik, walau ada beberapa kesalahan. Sebagai PA kehormatan saya juga berkesempatan bersalaman dengan Bapak Vikjen KAJ.
Ketika Jungle Night, saya dan rekan-rekan diminta kekompakannya untuk mendapatkan puzzle yang membentuk suatu gambar besar bertuliskan Jambore ASAK KAJ. Saya kecewa karena saya dan rekan-rekan tidak mendapatkan puzzle itu.
Secara keseluruhan acaranya seru dan menarik, tepat untuk menyatukan semua anggota ASAK KAJ. Terima kasih.” – Togar M. Sianipar

“Yang paling berkesan saat Jambore bagi saya adalah di saat acara lampion, ketika kita menaruh semua harapan dan melepaskannya dengan tujuan agar harapan itu bisa terjadi.
Saya juga sangat senang di bagian Dreams, saat saya menaruh impian saya di sebuah kertas kosong dan itu sebagai pemicu saya untuk mewujudkan impian saya.
Harapan saya adalah semoga ASAK bisa membantu lebih banyak anak yang kurang mampu untuk bersekolah dan semoga tali persaudaraan di ASAK makin erat, sehingga bisa menopang yang tidak mampu, bukan hanya finansial tetapi juga sebagai penyemangat.” – Veronica Jessica

“Jambore yang aku rasakan kali ini berbeda dari yang lain karena membahas tema yang sangat dekat dengan kehidupan remaja sekarang, sehingga sangat bermanfaat. Aku juga mendapat banyak teman baru dan menjadi lebih bersemangat lagi untuk mewujudkan cita-citaku di tengah keterbatasan.” – Angelia Putri

“Seneng kok, Kak… Yang pasti bisa dapat kenal temen-temen baru dari paroki yang sama dan paroki yang lain.
Trus acaranya juga bisa membuat semangat baru buat jadi orang sukses.
Trus sedihnya, terkadang temen-temen yang di sana masih gak bisa serius juga, jadi kurang dapet feelnya… Jadi drop dah gara-gara bapaknya marah-marah.” – Darien

Jambore ASAK sangat bermanfaat bagi aku, Kak, soalnya dari kegiatan Jambore tersebut, aku lebih belajar yang namanya kerja sama, saling menghargai, juga mendapatkan beberapa pelajaran hidup lebih berharga, Kak… Contohnya aku lebih mau mendengarkan orang tua dari sebelumnya… – Helen Maycellina

Kesan saya selama mengikut jambore itu, yang pertama dapet pengalaman berharga yang ga tau bisa didapetin lagi atau engga soalnya cuma 10 tahun sekali sayang banget 😦
Pokoknya di situ aku diajarin banyak hal, yang paling penting itu lebih banyak bersyukur dan bisa berbagi pengalaman tentang latar belakang yang berbeda satu sama lain. Ngerasa punya tempat buat cerita karena kita punya background yang sama ikut ASAK. Terus punya banyak temen baru… Seneng deh pokoknya, bisa diajak ngobrol sampe sekarang.
Pokoknya berkesan banget, ga bakal aku lupain walaupun nanti dateng kesana lagi udah jadi alumni ASAK huhu 😦 – Jakobus Enga Lei

“Hebat dan keren, seluruh rangkaian acaranya, terutama Kak Rocky dan semua sesinya.
Kekurangannya tertutupi oleh keseruan dan semangat persaudaraan di lapangan. Saya bisa merasakan, apa yang anak-anak ASAK rasakan, karena saya pun juga demikian.
Apresiasi tinggi untuk penyelenggara, panitia dan seluruh orang yang terlibat dalam pembuatan acara Jambore 1D ASAK, puji syukur terhadap Tuhan, saya boleh menjadi salah satu peserta Jambore” – Benedictus Putut Bayu Woro

“Dalam kesempatan sharing dengan anak-anak ASAK, aku teringat akan orang tuaku. Aku bersyukur karena bisa melewati masa-masa sulit dalam hidupku.
Aku bersyukur bisa masuk dalam tim ASAK, sehingga bisa membantu anak-anak ini. Melalui kesempatan sharing ini, aku jadi tau arti rasa syukur.
Aku juga bercerita sedikit tentang pengalaman hidupku agar menjadi pelajaran bagi mereka untuk tetap kuat dalam menghadapi cobaan hidup.
Sharing diakhiri dengan saling berpelukan dengan anak-anak, yang sangat memberi arti mendalam bagiku, yang tidak dapat diungkapkan dengan kata-kata.” – Alfa Leonora Sangkala

@noviyanti.rahardjo